Articles
Tiga Srikandi Harumkan NegeriSambut Hari Wanita DuniaBulutangkis.com - Menjadi seorang juara tidak semudah membalikan telapak tangan. Di balik itu semua ada nilai kerja keras dan ketekunan. Setidaknya hal tersebut dibuktikan tiga srikandi bulutangkis Indonesia Ivana Lie, Maria Kristin Yulianti dan Maria Febe Kusumastuti yang telah mengharumkan nama Indonesia dan mengibarkan merah putih di mata dunia. Tempat/Tgl. Lahir : Bandung, 7 Maret 1960 Kategori : Tunggal Putri, Ganda Putri, Ganda Campuran Prestasi : Tunggal Putri - Juara Indonesia Terbuka 1983 - Juara SEA Games Singapura 1983 - Juara Belanda Terbuka 1979 - Juara Indonesia Terbuka 1987 - Juara Indonesia Terbuka 1986 - Juara Ganda Campuran Asian Games 1982 - Juara Ganda Campuran Piala Dunia 1985 Aktifitas Kini : Staf Ahli Olahraga Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga Tempat/Tgl Lahir : Tuban, 25 Juni 1985 Prestasi : - Juara I Kejurnas 2009 - Semifinalis Sudirman Cup Guangzhou 2009 - Medali Perunggu Olimpiade Beijing 2008 - Juara II Djarum Indonesia Open Super Series 2008 - Juara II Uber Cup Jakarta Mei 2008 - Perempat Finalis Jerman Open Februari 2008 - Medali Emas SEA Games Perseorangan Desember 2007 - Medali Emas SEA Games Tim Putri Desember 2007 - Perempat Finalis Taiwan GP 2007 - 8 Besar Indonesia Open 2007 - Juara II Jerman Open 2006 - Juara I Singapore Satellite 2006 - Juara I Surabaya Satellite 2006 Tempat/Tgl. Lahir : Boyolali, 30 September 1989 Prestasi : - Juara II Kejurnas 2009 - Juara III India Open Grand Prix 2009 - Juara II New Zealand Open Grand Prix 2009 - Juara I Yonex Australian Open Grand Prix 2009 - Semifinalis Vietnam International Challenge 2009 - Juara I Sirnas Kalimantan 2009 - Juara I Bitburger Open Jerman 2008 - Juara I Beregu Gubernur Cup Kudus 2008 - Juara I Dutch Junior 2007 - Runner Up Jerman Junior 2007 - Juara II MILO 2007 - Quarter Final Italy 2007 - Juara I Brasil 2006 |
|||||
Pemain Yunior Putra Berprestasi tahun 2009
Seiring dengan catatan pemain bulutangkis terbaik 2009, saya ingin melanjutkan catatan tersebut terhadap pemain-pemain yunior Indonesia yang berprestasi sepanjang tahun 2009. Sepuluh pemain berprestasi ini dirangkum dari pertandingan nasional dan internasional untuk kelompok usia 19 tahun atau yang juga dikenal dengan kelompok taruna. Meskipun beberapa pemain yunior sudah berhasil meraih gelar juara di kelompok senior tetapi tidak diikutkan dalam catatan ini.
1. Angga Pratama
Angga Pratama layak menempati urutan teratas atas prestasinya di dua turnamen yunior Internasional bergengsi yakni Kejuaraan Asia dan Kejuaraan Dunia. Di kejuaraan Asia, Angga yang berpasangan dengan Rendy Sugiarto berhasil meraih gelar juara setelah mengalahkan pasangan tuan rumah Malaysia, Yew Hong Kheng /Ow Yao Han difinal dengan 21-16, 21-15.
Kemudian pasangan ini menembus semifinal kejuaraan dunia yunior yang berlangsung di Alor Setar, Malaysia. Catatan prestasi Angga ditambah lagi dengan menjadi runner-up nomor ganda campuran kejuaraan dunia tersebut berpasangan dengan Della Destiara Harris.
2. Rendy Sugiarto
Pemain asal Djarum Kudus ini merupakan pasangan Angga Pratama di nomor ganda putra yang berprestasi sebagai juara Asia dan semifinalis kejuaraan dunia. Namun dilevel dewasa pemain Pelatnas pratama ini lebih sering dipasangkan dengan Muhammad Rizky Delinugraha.
3. Muhammad Ulinnuha
Pemain spesialis ganda ini sering kali diturunkan bermain rangkap ganda putra dan ganda campuran. Meskipun begitu beberapa gelar juara di kedua nomor berhasil diraihnya. Di sektor ganda putra, Ulinnuha berpasangan dengan Berry Angriawan berhasil menjuarai Dutch Open Junior dan German Open Junior. Pasangan ini juga meraih prestasi runner-up Kejuaraan dunia. Sementara di nomor ganda campuran, Ulinnuha bersama Jenna Gozali menjuarai Dutch Open Junior dan runner-up German Open Junior.
4. Berry Angriawan
Bersama Ulinnuha hampir saja berhasil menjadi juara dunia yunior. Sayang difinal mereka dikalahkan pasangan tuan rumah Malaysia, Kah Ming Chooi/Yao Han Ow difinal dalam pertarungan tiga set 21-19, 12-21 dan 21-23. Tetapi dua gelar juara di Belanda dan Jerman telah memberikan harapan bahwa Berry/Ulinnuha bisa menjadi ganda kuat di masa depan.
5. Ricky Karanda
Dua medali emas berhasil dipersembahkan Ricky Karanda dalam ASEAN School Games I di Suphanburi, Thailand. Dalam pesta Olahraga pelajar negara se-Asia Tenggara tersebut, Ricky memenangkan nomor ganda putra bersama Imam Hoerudin dan ganda campuran berpasangan dengan Ayu Pratiwi. Gelar internasional lainnya dipersembakan Ricky pada turnamen Tangkas Alfamart Open. Difinal ganda putra Ricky dan rekannya Budi Hartono berhasil mengalahkan pasangan Djarum Kudus, Dandi Prabudita/Jones Ralfy Jansen 21-15 dan 21-17. Ricky/ Budi juga menjuarai Sirnas Bali. Sebelumnya Ricky berpasangan dengan Ali Akbar memenangkan Sirnas Kalimantan. Sementara di ganda campuran, Ricky/Ayu Pratiwi mendapat tambahan gelar juara Sirnas DKI dan Sirnas Sumatera.
6. Didit Juang Indrianto
Pemain ini meraih gelar Internasional dari sektor ganda campuran Tangkas Alfamart Open. Berpasangan dengan rekan satu klubnya Yayu Rahayu, pasangan ini mengalahkan Jones Ralfy Jansen/ Nurbeta Kwanrico 21-16, 21-14. Dilevel nasional, Didit/ Yayu meraih gelar juara Sirnas Kalimantan. Sementara dinomor ganda putra Didit yang dipasangkan dengan Seiko Wahyu memborong tiga gelar juara sirnas pada Sirnas DKI, Jawa Barat dan Jawa Timur.
7. Subhan Hasan
Pemain asal klub Jaya Raya ini menjadi kampium ganda putra Youth Singapore International U-19 berpasangan dengan Agripinna Prima Putera. Difinal mereka mengalahkan pasangan tuang rumah Robin Gonansa/Huang Chao 21-19 dan 21-14. Subhan Hasan juga handal bermain di tunggal yang dibuktikan dengan menjuarai Sirnas Kalimantan dan Sumatera
8. Riyanto Subagja
Harapan tunggal putra Indonesia masa depan dapat ditumpukan pada nama ini. Meskipun baru masuk kelompok taruna, Riyanto berhasil mensejajarkan diri dengan angkatan diatasnya. Ini terbukti dengan persembahan gelar juara Tangkas Alfmart Open setelah difinal mengalahkan pemain unggulan asal India, Sai Praneet Bhamidipati 21-16, 21-16. Keperkasaan Riyanto dilengkapi dengan menjuarai Sirnas Bali.
9. Agripinna Prima Putra
Putera mantan pebulutangkis Sigit Pamungkas ini memiliki ciri permainan aktraktif. Selain gelar juara ganda putra bersama Subhan Hasan, Agripinna juga mampu menjadi Kampiun di tunggal putra Sirnas DKI.
10. Jones Ralfy Jansen
Jansen memang tidak meraih gelar internasional sepanjang tahun 2009. Tetapi runner-up di dua nomor sekaligus pada Tangkas Alfamart Open merupakan prestasi tersendiri. Hasil sebagai finalis didapatnya dengan pasangannya Dandi Pramudita di ganda putra dan Nurbeta Kwanrico di ganda campuran. Sementara gelar sirnas diperolehnya pada nomor ganda putra sirnas Jateng (+Darmiko) dan ganda campuran Sirnas Jateng serta Jatim (+Yayu Rahayu).
Kesepuluh pebulutangkis putra tersebut sebagian diantaranya sudah meniti karir dikelompok dewasa pada tahun ini. Dari pundak mereka mereka disandangkan harapan prestasi Indonesia yang sedang mengalami krisis regenerasi. Sementara bagi mereka yang masih bertarung dikelompok taruna maka terdapat tantangan untuk menunjukkan eksistensi Indonesia di level Internasional seperti Kejuaraan Asia Yunior, Kejuaraan Dunia Yunior dan puncaknya Youth Olympic I di Singapura.
Contributed by: Hendri Kustian
Adopted from http://www.bulutangkis.com ( Catatan Kecil Hendri Kustian ).
Pemain Yunior Putri Berprestasi Tahun 2009
Indonesia kembali tertinggal dalam prestasi Internasional di bagian putri. Kita tidak perlu membandingkan dengan China yang pemain lapis ketiganya sudah bisa meraih gelar juara Super Series tetapi dengan negara tetangga seperti Thailand saja sudah kedodoran. Thailand malah berhasil menciptakan ”ALL Thailand Final” di nomor tunggal putri Kejuaraan Dunia Yunior antara Ratchanok Intanon dan Portip Buranaprasertsuk.
Namun demikian kita tidak boleh berputus harapan karena beberapa pemain masih bisa mencatat prestasi yang baik.
1. Della Destiara Haris
Dengan prestasinya sebagai runner-up ganda campuran Kejuaraan Dunia Yunior maka Della layak didaulat sebagai pemain yunior paling berprestasi. Pemain yang tergabung dalam skuat Pelatnas Pratama ini juga meraih gelar juara turnamen Internasional Tangkas ALfamart Open nomor ganda putri berpasangan dengan Gebby Rityani Imawan. Sebelum bergabung di Pelatnas Pratama, Della menjuarai Pertamina Open II dan Sirnas Kalimantan berpasangan dengan Claudia Ayu pada awal tahun 2009.
2. Suci Rizky Andini
Posisi runner-up ganda putri kejuaraan dunia yunior bersama Tiara Rosalia membuat Suci ditempatkan dinomor dua. Disamping itu Suci berhasil masuk babak semifinal Tangkas Alfamart Open disektor ganda campuran berpasangan dengan Kevin Alexander.
3. Tiara Rosalia Nuraidah
Gelar juara dunia yunior belum dapat diraih Tiara dan Suci setelah dikalahkan andaalan China Tan Jinhua/Huang Xia 9-21 dan 18-21. Tetapi keberhasilan mereka menembus final layak mendapat apresiasi ditengah minimnya prestasi pemain putri Indonesia.
4. Jenna Gozalli
Pemain klub Djarum Kudus ini meraih gelar Internasional pada sektor ganda campuran Dutch Open Junior bersama Muhammad Ulinnuha. Pekan berikutnya pasangan ini hanya menempati runner-up German Open Yunior setelah dikalahkan pasangan Korea Kang Ji Wook/Hye In Choi 20-22, 17-21. Di ganda putri, Jenna bersama Rufika Olivta menempati posisi empat besar pada Dutch Open Junior
5. Dian Fitriani
Satu gelar juara Singapore Youth International U-19 dipersembahkan Dian Fitriani/Eri Octaviani dinomor ganda putri. Pasangan ini juga memborong tiga gelar juara Sinas mulai dari Sirnas Jateng, Bali dan Sumatera. Semenara di Tangkas Alfamart Open mereka menduduki posisi runner-up. Di Tangkas Alfamart Open ini, Dian Fitriani juga bermain ditunggal putri dengan hasil sebagai semifinalis setelah dikalahkan pemain Malaysia, Sonia Su Ya Cheah 21-15, 14-21, 3-21.
6. Eri Octaviani
Berpasangan Dian Fitriani menjuarai Singapore Youth International dan runner-up Tangkas Alfamart Open. Di level nasional, mereka meraih tiga gelar juara Sirnas.
7. Yayu Rahayu
Yayu merupakan pemain klub Djarum Kudus lainnya yang berhasil meraih gelar Internasional. Yayu bermain diganda campuran bersama Didit Juang Indrianto berhasil menjuarai ganda campuran Tangkas Alfamart Open. Didit/Yayu juga menjuarai Sirnas Kalimantan kemudian Yayu sendiri juara campuran Sirnas Jateng dan Jatim (+Jones Rafly Jansen) serta ganda putri Sirnas Jatim (+Lidya Pradipta)
8. Gebby Rityani Imawan
Merupakan anggota skuat Pelatnas Pratama yang menjadi pasangan Della saat menjuarai Tangkas Alfamart Open.
9. Anna Rovita
Kejutan dibuatnya dengan berhasil menembus semifinal kejuaraan Asia Yunior. Langkahnya ke final dihentikan sang juara Chen Xiaojia (China) 22-24, 17-21. Sementara dilevel nasional, Anna menjuarai Sirnas DKI dan turnamen Surabaya Open.
10. Febby Angguni
Pemain ini membuat prestasi yang sama dengan Anna Rovita sebagai semfinalis Kejuaraan Asia Yunior. Di kancah nasional sebenarnya Febby mencatat prestasi lebih baik dengan meraih tiga gelar juara tunggal putri sirnas kelompok dewasa. Tetapi karena catatan ini hanya melihat prestasi di kelompok taruna maka Febby ditempatkan diposisi kesepuluh.
Demikian sepuluh pemain yunior paling berprestasi di tahun 2009. Tantangan kelompok putri tahun-tahun mendatang akan lebih besar. Kemajuan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand harus diantisipasi dengan meningkatkan prestasi pemain putri Indonesia. Semoga tahun 2010 ini prestasi pebulutangkis Indonesia menjadi lebih baik.
Contribute by: Hendri Kustian
Adopted from http://www.bulutangkis.com ( Catatan Kecil Hendri Kustian )
Salam Akhir Tahun dari Taufik Hidayat
Bulutangkis.com – Waktu berjalan begitu cepat dan tidak terasa bahwa kita sekarang sudah berada pada penghujung tahun 2009. Selama beberapa minggu terakhir ini pula, saya sering berpikir dan mengingat kembali apa yang telah terjadi selama setahun ini.
Siapa yang bisa memprediksi bahwa saat ini saya pemain terbaik ke 3 didunia, sedangkan pada periode yang sama di tahun 2008, saya bahkan tidak berada di urutan 10 pemain teratas menurut BWF.
Selama tahun 2009, saya pun senantiasa untuk selalu memperbaiki permainan, menguatkan stamina serta fitness dalam setiap turnamen yang saya ikuti; hasilnya pun sudah sesuai harapan, meskipun hasil positif tersebut tetap menjadi dorongan untuk menjadi lebih baik dan mencapai target serta gol yang lebih tinggi pada tahun baru nanti.
Tahun ini merupakan tahun yang penuh dengan “kejutan” bagi saya pribadi, diawali dengan keputusan saya untuk berdikari serta mengundurkan diri dari PBSI pada akhir Januari lalu, kesuksesan kerjasama saya dengan Yonex yang menghasilkan “Taufik Hidayat Line” (THL), menjadi salah satu ikon “Pendekar Anak” UNICEF, secara pasti menemukan tempat dalam dunia profesional bulutangkis dengan mendirikan manajemen olahraga, THForce Management; serta pada akhirnya sedikit demi sedikit dapat merealisasikan ambisi serta keinginan yang telah saya impikan setelah hampir 2 dekade berkarir menjadi seorang pemain bulutangkis, untuk menemukan kembali kecintaan saya terhadap olahraga ini.
Tahun 2010 turut menyimpan banyak target serta kemungkinan-kemungkinan baru bagi saya; diawali dengan rencana pembangunan Taufik Hidayat Arena (TH Arena) yang dijadwalkan akan dimulai pada akhir Maret 2010.
Melanjutkan kesuksesan kerjasama dengan Yonex melalui THL, yang telah menghasilkan penjualan positif pada tahun 2009 selama Indonesia Open, World Championships di India dan Hong Kong Open. Adapun kerjasama dengan Yonex berupa THL ini, bermaksud untuk mengembangkan produk yang akan disediakan, membawa desain THL kepada tingkat kreatifitas yang lebih tinggi dari sebelumnya serta dengan membuka pasar yang lebih luas pada tahun 2010.
Saat-saat bahagia maupun mengecewakan; baik di lapangan maupun di luar lapangan membuat saya merasa 2009 sebagai tahun yang penuh berkah, besar harapan saya bahwa tahun 2010 akan memberikan banyak kesuksesan serta kebahagiaan bagi kita semua.
Selamat Tahun Baru 2010!
Jakarta, 30 Desember 2009,
Hormat saya,
Taufik Hidayat
Siapa Penerus Markis Kido/Hendra Setiawan?
Bulutangkis.com – PBSI kembali mendapat cobaan yang berat. Satu persatu pelatih dan pemain hengkang dari pelatnas. Berawal dari Vita Marissa, pemain spesialis ganda ini membuat kejutan di awal tahun 2009 dengan mengundurkan diri dari hiruk pikuk pelatnas.
Kemudian diikuti oleh pemain senior Alvent Yulianto. Selanjutnnya, Hendrawan, pelatih tunggal, mantan juara dunia tunggal putra memutuskan untuk berkarya di negeri tetangga, Malaysia. Akhir tahun 2009, dunia bulutangkis Indonesia kembali terhenyak. Peraih medali emas Beijing 2008, Markis Kido/ Hendra Setiawan melayangkan surat pengunduran dirinya dari pelatnas.
Jika Vita Marissa keluar dari pelatnas beralasan dengan masalah kontrak, Markis Kido/ Hendra Setiawan memutuskan keluar dengan alasan ingin mencoba bermain secara profesional. Surat pengunduran Juara Dunia ganda putra 2007 ini telah dilayangkan ke PBSI sebelum pelaksanaan Sea Games Laos 2009 dimulai.
Meski menyatakan siap membela tim nasional, namun dengan mundurnya Markis Kido/ Hendra Setiawan membuat kekuatan Indonesia di ganda putra semakin melemah. Pemain lapis kedua ganda putra Indonesia belum masih belum siap menerima tongkat estafet dari sang peraih medali emas Sea Games 20009.
Ganda putra nomor dua Indonesia, Mohamad Ahsan/ Bona Septano meski pernah menjadi juara pada turnamen Bingo Bonanza Philippine Open Grand Prix Gold 2009, penampilan mereka berdua di ajang Super Series masih labil. Meski pernah mengalahkan pemain top macam Lars Paske/ Jonas Rasmusen, Ahsan/ Bona belum bisa menjaga konsistensi permainan. Kalah di babak awal turnamen kerap terjadi. Penampilan terbaik mereka di ajang turnamen kategori Super series baru hanya baru bisa sampai babak perempat final, yakni di Korea Super Series 2009, All England 2009 serta Prancis Open Super Series 2009.
Finalis Japan Super Series 2009, Yonathan Suryatama Dasuki/ Rian Sukmawan juga sama. Nasib kurang beruntung di tahun 2009 dialami bagi pasangan yang tahun ini baru bergabung dengan pelatnas. Berulang kali Yoke (pang%@!#$&n akrab Yonathan)/ Rian bertemu dengan pemain-pemain dari Malaysia, Koo Kean Keat/ Tan Boon Heong atau Mohd Zakry Abdul Latif/ Mod Fairuzizuan Mod Tazar di babak-babak awal turnamen super series. Yoke/ Rian di tahun ini hanya baru bisa sekali mengalahkan Pasangan nomor dua Malaysia, Mohd Zakry Abdul Latif/ Mod Fairuzizuan Mod Tazar. Sedangkan dengan pasangan utama Malaysia Koo Kean Keat/ Tan Boon Heong, Yoke/ Rian belum pernah menang sekalipun.
Di lapis berikutnya lebih memprihatinkan lagi. Setelah pemain senior macam Alvent Yulianto, Luluk Hadiyanto, Hendra Aprida Gunawan, Joko Riyadi tak lagi menghuni pelatnas, stok pemain ganda putra belum memperlihatkan regenerasi yang mulus.
Fernando Kurniawan/ Lingga Lie, Afiat Yuris Wirawan/ Wiqi Windarto belum juga memperlihatkan prestasi yang menggembiarakan. Di sepanjang tahun ini, Fernando Kurniawan/ Lingga Lie belum mampu meraih satu gelarpun. Jangankan di kelas Grand Prix, dikelas Challenge pun kedua pasangan ini selalu gagal. Bahkan di turnamen Astec Ultra Milk Open Indonesia International Challenge 2009 Fernando/ Lingga kalah dari pemain pratama Angga Pratama/ Rian Agung Saputra. Prestasi terbaik kedua pasangan ini hanya sekali sebagai semifinalis di Vietnam International Challenge 2009. Peringkat mereka pun melorot dari 24 per tanggal 30 Juli 2009 menjadi 36 per tanggal 17 Desember 2009.
Minimnya pertandingan yang diikuti oleh Afiat Yuris Wirawan/ Wifqi Windarto menjadi salah satu penyebab mandegnya prestasi pasangan ini. Meski prestasi mereka berdua sedikit lebih baik dibandingkan dengan Fernando Kurniawan/ Lingga Lie, namun peringkat mereka per 17 Desember 2009 hanya berada di posisi 45. Dua kali pasangan ini sempat menjadi semifinalis di Vietnam International Challenge 2009 dan Macau Grand Prix Gold 2009.
PBSI harus mengambil langkah yang tepat untuk mengantisipasi masalah ini. Regenerasi menjadi kata kunci dan menjadi satu keharusan, jika Indonesia tidak ingin ketinggalan dari negara lain.
Dua even besar di tahun depan sudah menanti di depan mata. Putaran Thomas-Uber bulan Mei di Malaysia serta Asian Games bulan November 2010 di Guangzhou, China. Mulai dari sekarang PBSI mengatur pandai strategi, apalagi dengan minimnya stok pemain yang dimiliki PBSI.
Source : www.bulutangkis.com (Arief Rachman).
Srikandi Bulutangkis Indonesia

25 Desember 2009. ( Dengan perubhan seperlunya).
Bulutangkis.com - “Badminton dimana-mana. Di kampung jeung di kota…” Potongan lirik lagu yang dibawakan oleh Doel Sumbang tersebut menggambarkan sebuah realitas, bahwa bulutangkis (badminton) merupakan salah-satu cabang olah raga yang sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia.
Jawa Barat sudah tidak terbantahkan lagi merupakan penyumbang atlet bulutangkis yang telah mampu mengaharumkan nama bangsa di kancah kompetisi dunia sepanjang sejarah perbulutangkisan internasional.
Susi Susanti adalah pemain puteri legendaris asal Jawa Barat, Srikandi bulu tangkis kelahiran Tasikmalaya yang dipersunting atlet bulutangkis putera Alan Budikusuma, telah membuktikan berbagai prestasi bergengsi di tingkat dunia. Puncaknya, keduanya adalah peraih medali emas Olimpiade tahun 1992 di Barcelona Spanyol dimana untuk pertama kalinya cabang bulutangkis dipertandingkan dalam pesta olah raga paling akbar di jagat ini.
“Pengantin Olimpiade” ini pada jamannya telah menjadi momok menakutkan bagi siapapun lawan yang akan menghadapinya. Pasangan fenomenal yang telah mampu menumbuhkan motivasi generasi penerusnya untuk meraih prestasi puncak dalam bidang olah raga bulutangkis.
SUPERKID CHAMPION adalah kejuaraan bulutangkis terbuka memperebutkan Piala Bergilir Superkid Champion yang diberikan oleh Pengantin Olimpiade Barcelona 1992, Alan Budikusuma & Susi Susanti dengan mempertandingkan kejuaraan kelompok umur; tidak lain adalah untuk memotivasi putra-putri berbakat menjadi atlet yang memiliki prestasi gemilang dimasa yang akan datang. Agar dapat melahirkan Susi-Susi dan Alan-Alan yang dapat meraih bintang.
Diharapkan event ini menjadi kalender periodik paling tidak 2 tahunan yang selain menjadi parameter prestasi dini para pesertanya juga mendorong tumbuhnya prestasi bulutangkis di Jawab Barat khususnya dan Nasional pada umumnya.
Berangkat dari spirit itulah SUPERKID CHAMPION ini digelar. Pasti dalam pelaksanaannya akan memiliki banyak kekurangan, namun dari kekurangan itulah akan menjadi bahan koreksi dan revisi dalam penyelenggaraan kedepannya.
Event ini dilaksanakan di sebuah kota mungil di wilayah yang sama dimana “Srikandi Bulutangkis Indonesia” dilahirkan dan dibesarkan, Tasikmalaya, tepatnya di kota kecil Rajapolah sebagai sentra penghasil kerajinan tangan yang dikenal sampai ke mancanegara yang pada setiap musim libur ramai dikunjungi para peminat hasil olah cipta para pengrajin anyam-anyaman dan sejenisnya.
Minimnya Tayangan Bulutangkis di Televisi

Bulutangkis.com – Bulutangkis, olah raga yang mengandalkan kekuatan, kelenturan, keakurasian dalam mengendalikan laju shuttlecock yang terbuat dari buluangsa tetap menjadi primadona di Indonesia. Prestasi demi prestasi mendunia kerap ditorehkan oleh pemain-pemain Indonesia.
Siapa yang tak kenal Ferry Sonevile, sang maestro bulutangkis Rudi Hartono, Lim Swie King dengan King Smeshnya, Haryanto “Smes 1000 Watt” Arbi, Christian Hadinata, Ferawati Fadjrin, dan masih banyak lagi deretan pemain Indonesia yang mempunyai prestasi dunia.
Bukan hanya prestasi regional macam SEA Games yang selalu menyumbangkan pundi-pundi emas bagi Indonesia, di forum yang lebih luas lagi seperti Asian Games bahkan Olimpiade, tradisi mempersembahkan medali emas dari bulutangkis selalu terjadi. Pengantin emas Susi Susanti – Alan Budi kusuma, Ricky Subagja/ Rexi Mainaki, Taufik Hidayat membuat nama Indonesia bertengger di daftar elite dunia.
Namun prestasi spektakuler yang dibuat oleh para pemain Indonesia di ajang Internasional tidak juga membuat hati para pengusaha media elektronik alias media televisi terbuka. Jarang dilihat pertandingan lokal bahkan internasional ditayangkan di media televisi. Berbanding terbalik dengan penayangan pertandingan sepakbola yang selalu membanjiri seluruh media televisi yang ada di tanah air ini. Media televisi seakan-akan jor-joran menanyangkan pertandingan sepakbola. Dari mulai pertandingan liga yang dilangsungkan di negeri yang jauh dari Indonesia sampai pertandingan Piala Dunia selalu menjadi incaran para media televisi.
Media televisi akan menjadi sangat bangga apabila stasiun televisi mereka menjadi penyelenggara siaran resmi piala dunia sepakbola. Mereka bangga meski Indonesia tidak ada diantara jawara sepakbola. Bisa dibayangkan berapa milyar habis dibuang oleh media televisi hanya untuk menayangkan pertandingan yang ironisnya tidak diikuti oleh anak bangsa.
Ada yang mengatakan bahwa salah satu penyebab mengapa bulutangkis enggan dijamah oleh media televisi dikarenakan bulutangkis kurang menjual dibanding sepakbola. Namun hal ini hendaklah tidak dijadikan alasan bagi para pengusaha televisi untuk tidak melirik bulutangkis sebagai olahraga yang menjual. Jumlah peminat dan pecinta olahraga tepok bulu di negeri ini sangatlah besar. Apalagi jika dilihat dari segi fanatisme terhadap pemain Indonesia.
Tengoklah pada saat Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan Piala Thomas dan Uber tahun lalu. Istora Senayan tak sanggung menampung penonton yang membludak. Sampai-sampai panitia harus memasang ‘Giant Screen’ di pelataran parkir khusus disediakan bagi para pecinta bulutangkis yang tidak kebagian masuk kedalam Istora. Sementara para calo tiket berkeliaran mencari keuntungan sesaat, melihat meluapnya penonton yang ingin menyaksikan jagoan-jagoannya bertanding.
Tapi, apa lacur. Fanatisme penonton dan pecinta bulutangkis Indonesia tidak ditangkap oleh media televisi. Media televisi tetap enggan menjamah bulutangkis. Gerakan facebookers untuk mendukung penayangan siaran bulutangkis di televisi belum mendapat realisasi. Meski Trans 7 telah memulai dengan penayangan putaran final piala Thomas dan Uber pada tahun lalu. Belakangan hanya Global TV yang sesekali memanjakan pecinta bulutangkis dengan suguhan kelas Super Series.
Entah sampai kapan media televisi akan terketuk hatinya untuk menayangkan pertandingan bulutangkis di televisi. Jika yang dijadikan acuan prestasi, jelas bulutangkis Indonesia lebih berprestasi dibanding sepakbola. Lihatlah pada laga Sea Games 2009 di Laos, tim sepakbola Indonesia tidak bisa meraih medali meski itu cuma medali perunggu sekalipun dan yang lebih menyedihkan tim Indonesia sudah harus angkat koper sebelum pertandingan semifinal dilangsungkan. Sementara tim bulutangkis Indonesia sudah mengkoleksi satu medali emas, satu perak dan masih terus akan mendulang medali di nomor perorangan.
Source ; Arief Rachman ( http://www.bulutangkis.com )
Post : 21 Desember 2009
Hadiah Miliaran Rupiah untuk Bulutangkis Setiap Tahun Pasti Meningkat
Bulutangkis.com – Turnamen atau kejuaraan, di mata seorang atlet tentu mempunyai arti yang sangat penting. Tanpa adanya turnamen, rasanya akan sia-sia atlet itu berlatih keras setiap hari. Dari sinilah atlet itu unjuk kebolehan, mengeluarkan segala yang telah dipelajarinya selama latihan. Turnamen dijadikan alat untuk mengukur sampai sejauh mana atlet itu menggembleng diri mereka. Pada akhirnya, prestasi yang menjadi ukuran. Semakin tinggi prestasi diraih, semakin berhasil pula pembinaan atlet itu. Sistem pembinaan harus terus memacu atlitnya untuk mengikuti turnamen.
Sedemikian penting arti sebuah turnamen sehingga banyak pelatih dan tentu saja atlet menempatkan turnamen sebagai puncak penampilan yang harus diraih pada periode tertentu. Sebagai contoh, banyak atlet mengidamkan gelar All England Super Series. Tentu banyak alasan mengapa turnamen itu dianggap sebagai ajang seorang atlet bulutangkis menemukan jati dirinya di turnamen bulutangkis tertua di dunia itu.
Yang tidak kalah penting dari suatu turnamen adalah hadiah. Tidak bisa dipungkiri hadiah merupakan salah satu faktor prestisenya suatu turnamen dan penarik bagi atlet untuk meraih juara. Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) pun saat ini tengah berusaha meningkatkan mutu turnamen bulutangkis di Indonesia. PB PBSI tentu ingin agar anak bangsa dapat berprestasi di tingkat dunia. Untuk menjadikan atlet kualitas dunia, salah satunya adalah meningkatkan hadiah turnamen, sehingga merangsang insan bulutangkis untuk berlomba menjadi yang terbaik.
Hadiah Meningkat Tajam
PB PBSI pun menggandeng pihak-pihak swasta untuk bersama-sama meningkatkan prestise turnamen. Dengan total hadiah Rp 4,9 miliar uang tunai yang diberikan pada berbagai kalender turnamen nasional dan internasional di Indonesia selama tahun 2009, seperti Djarum Indonesia Open Super Series, Astec Indonesia International Challenge, Djarum Sirkuit Nasional, Kejurnas, dan berbagai kejuaraan bulutangkis swasta nasional sesuai kalender PB PBSI.
Angka ini luar biasa. Meningkat tajam dibanding tahun lalu. Pada 2008, total hadiah yang diberikan untuk turnamen besar bulutangkis di Indonesia sesuai kalender nasional adalah Rp 3,6 miliar dengan nilai terbesar diberikan oleh Djarum Indonesia Open Super Series 2008, yang menyediakan hadiah US$ 250.000 atau sekitar Rp 2,5 miliar.
Sementara itu, untuk turnamen Sirkuit Nasional mengalami peningkatan hadiah yang tajam, bila tahun 2008 total hadiah yang diberikan untuk seluruh rangkaian Sirkuit Nasional di 8 kota adalah Rp 400 juta. Pada tahun 2009, setelah Djarum masuk sebagai sponsor utama Sirkuit Nasional, total hadial menjadi Rp 1,4 miliar.
Menurut Ketua Bidang Turnamen dan Perwasitan PB PBSI Mimi Irawan, total hadiah bulutangkis di 2009 sangat meningkat tajam dibandingkan tahun 2008. Secara total keseluruhan event PB PBSI dengan dukungan sponsor utama PT. Djarum dari Rp 3.6 milyar menjadi Rp 4.9 milyar. Namun PB PBSI dan sponsor utama Sirkuit Nasional khususnya juga memiliki misi yang sama untuk mendukung pembinaan bulutangkis di Indonesia. Dukungan itu membuat berbagai kejuaraan, seperti Sirkuit Nasional semakin bermutu dan berkualitas. Tentunya sekaligus menjadi tantangan atlet Indonesia untuk berprestasi dan klub-klub menjadi bergairah melakukan pembinaan yang berkesinambungan.
Tahun 2010 berbagai turnamen dan hadiah pun tengah dipersiapkan oleh PB PBSI dan sponsor dengan asumsi angkanya lebih besar lagi. “Djarum Sirkuit Nasional 2010 total hadiahnya menjadi sekitar Rp 1,7 miliar dan digelar di 9 kota. Di samping itu, Indonesia rencananya akan menggelar satu lagi turnamen internasional, Indonesia Grand Prix Gold, yang memberikan total hadiah Rp 1,2 miliar. Dengan demikian, asumsi total hadiah tahun 2010 untuk turnamen bulutangkis ini pun menjadi sekitar Rp 6, 7 miliar. Dibandingkan dengan tahun 2008, maka asumsi total hadiah tahun 2010 untuk peningkatannya saja mencapai 88%, ini cukup signifikan” tambah Mimi.
Kenaikan hadiah bulutangkis tentunya menjadi tantangan dan semangat bagi para atlet. Pemain senior yang juga masih berprestasi Budi Santoso mengatakan, besarnya hadiah yang ditawarkan Sirkuit Nasional tahun 2009 merupakan yang terbesar. “Dulu-dulu, sebelum ada sponsor, hadiahnya masih di bawah standar. Lagi pula, antara satu daerah dengan daerah lainnya tidak sama tergantung co-sponsor di daerah itu. Kini, semua daerah sama besarnya jumlah hadiahnya,” kata pemain Mutiara Bandung ini.
Saat ini, kata Budi, pemenang dari nomor tunggal dewasa putra mendapat Rp 12,4 juta. Naik hampir tiga kali lipat dibanding tahun 2008. “Tahun lalu, saat saya merebut gelar juara, paling tinggi prize money yang saya terima hanya Rp 4,5 juta. Semoga tiap tahun hadiahnya bertambah,” canda mantan pemain Pelatnas ini.
“Bukan mata duitan lho. Namun, ini sangat penting. Sebenarnya ada positifnya juga dengan tingginya hadiah, antara lain anak-anak tidak ada yang mau mencuri umur lagi. Saat ini, banyak pemain kita di luar negeri karena antara lain hadiah turnamen yang disediakan selama ini kecil. Ini menjadi yang negatif bagi pembinaan karena di Indonesia akan kurang sparing. Jika hadiah tinggi, maka itu akan menekan perginya pemain potensial ke luar negeri. Di samping itu, dengan tersedianya turnamen berkelas di Tanah Air, maka tidak perlu lagi bertanding di luar negeri yang tentu biayanya akan sangat mahal.”
Daya Tarik Pemain
All England merupakan salah satu turnamen yang diinginkan setiap pebulutangkis mana pun karena turnamen ini mempunyai sejarah panjang, sebagai turnamen tertua di dunia. Namun, jika dilihat dari besarnya hadiah, turnamen ini bukan lagi menjadi yang paling prestisius. Bahkan, jumlah hadiah yang ditawarkan di bawah prize money Djarum Indonesia Open Super Series 2009 yang sudah menyentuh angka US$ 250.000, sedangkan All England Super Series US$ 200.000.
Djarum sebagai sponsor ingin mengangkat pamor turnamen di Indonesia dan di mata dunia perbulutangkisan. Dengan tersedia nilai hadiah besar , turnamen akan menjadi magnet bagi atlet elite dunia. Bukan rahasia lagi bila atlit-atlit dari Asia melirik turnamen Super Series karena menjadi tantangan selain prestasi. Namun, setelah hadiah turnamen meningkat, hampir semua pebulutangkis elite dari raksasa bulutangkis dunia sekalipun, hadir di Jakarta bertarung dengan elite-elite pebulutangkis dari belahan dunia lainnya. Mereka bertarung demi gengsi, kejayaan, dan juga hadiah yang besar seperti Djarum Indonesia Open Super Series 2009.
Selain Djarum Indonesia Open Super Series, peningkatan kualitas turnamen tingkat nasional pun terlihat di Djarum Sirkuit Nasional. Tahun ini, turnamen yang ditujukan untuk mencari bibit masa depan tersebut membuka pintunya bagi sponsor. Dari sisi hadiah, Sirkuit Nasional mengalami peningkatan sangat tajam. Tentu saja, ini menjadi keuntungan bagi pebulutangkis Indonesia. Hadirnya sponsor yang memberikan hadiah besar bagi para juara menjadikan peningkatan prestise Sirkuit Nasional dan antusias atlet mengikuti turnamen ini menjadi lebih tinggi.
Indonesia akan memiliki bibit pemain potensial cukup banyak jika semakin banyak terselenggaranya turnamen dan semakin besar hadiahnya di dalam negeri. “Ujian bagi seorang pemain ya turnamen,” ujar pemain senior Tri Kusharjanto. Sirkuit Nasional yang kini semakin tertata, katanya, akan menjadikan atlet bulutangkis Indonesia memiliki banyak kesempatan untuk mengasah kemampuan, menajamkan smash, memperlincah footwork, dan memperbaiki mental bertanding. Ditambah dukungan hadiah yang besar, Sirkuit Nasional tentu menjadi incaran para atlet, termasuk atlet usia muda untuk meniti karir sebagai atlit masa depan.
Sejalan dengan itu, Febby Angguni yang berhasil meraih juara di Djarum Sirkuit Nasional Jawa Tengah mengungkapkan, Sirkuit Nasional sangat membantunya sebagai atlet generasi baru untuk melatih dan memperkuat tehnik bermain. “Saya semakin terasah di sini, dan ini menjadi bekal saya bertanding di turnamen internasional. Hadiah yang saya terima ini pun menjadi bekal masa depan saya untuk bisa mendapatkan pendidikan dan latihan bulutangkis yang terbaik,” kata pemain asal Bandung ini.
Sirkuit Nasional yang tahun depan rencananya akan digelar dalam sembilan kota ini pun akan ditambah hadiahnya. Tidak dipungkiri lagi, hadiah akan merangsang semua pihak untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Selain itu, bagi atlet muda, dengan prestasi mereka berkesempatan untuk menuju jenjang yang lebih bergengsi. Regenerasilah yang mampu menjawab tantangan bulutangkis Indonesia di mata Internasional. Maju bulutangkis Indonesia.
(Contribute by: Image Dynamics)
Source : www.bulutangkis.com


































deal …. coba tiap turnamen ditayangin ,, jgn cma sepakbola di negeri nan jauh, tpi qta blum bz bertengger dijajaran papan tengah dunia,,,
Gw setuju bgtzz….. Hruz’a ada stasiun yg konsisten menayangkan pertandingan bulutangkis…. satu2nya olahraga yang mengharumkan indonesia dimata dunia…