Maria Febe, Senjata Baru Indonesia

Fetra Hariandja – Okezone

<!–// –>

BANYAK yang bilang gaya saya mirip Susi Susanti. Tetapi, saya tidak tahu mirip di mananya. Yang jelas, Susi Susanti idola saya. Saya tentu ingin berprestasi seperti dia,” kata Maria Febe Kusumastuti, salah satu bintang Indonesia yang akan tampil di turnamen bulutangkis Djarum Indonesia Open Sper Series (DIOSS) 2010 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, 22-27 Juni mendatang.

Febe, biasa dia dipanggil, kini menjadi salah satu pemain yang diharapkan Indonesia untuk mengembalikan kejayaan bulutangkis, seperti era Susi Susanti, yang begitu disegani dunia, era 1990-an lalu.Saat ini, pemain kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, ini menduduki peringkat teratas pemain Indonesia di tingkat dunia. Dia bertengger di urutan ke-19, di atas seniornya Adriyanti Firdasari yang berada lima tingkat di bawahnya, dan juga seniornya di klub Djarum Kudus, Fransisca Ratnasari (rangking 30) dan Maria Kristin (54).

Tingginya peringkat Febe tidak lepas dari prestasinya tahun lalu, yang merebut beberapa gelar juara. Prestasinya terbaiknya, adalah juara Grand Prix Australia Open. Dia juga menggapai final Grand Prix Selandia Baru Open, yang digelar setelah Australia Open. Tahun sebelumnya, dia juara di turnamen Bitburger, Jerman.

Bakatnya sebagai atlet bulutangkis tampaknya lahir dari ayahnya, Yoshua Bawi Aryawijaya. Bapak tercintanya, piawai bermain di semua cabang olahraga. Selain bela diri, sang ayah juga pandai memainkan sepakbola, bulutangkis, dan juga voli. Namun rupanya, soal prestasi, ayahnya harus kalah dari sang anak. Febe memang telah mantap berada di jalannya sekarang ini.

Febe saat ini tidak lagi bermain membela nama Djarum, klubnya, karena dia telah masuk pelatnas. Tugas berat tentu harus diembannya. Setelah membela nama Indonesia di Piala Uber di Malaysia, awal Mei ini, dia akan bertanding lagi di Djarum Indonesia Open. “Tahun lalu, saya kalah dari Pi Hongyang di babak pertama. Kini, setelah satu tahun berlalu, dan saya sudah memiliki pengalaman bertanding yang lebih, saya ingin menggapai prestasi lebih dari itu. Saya ingin mencapai semifinal,” kata penyuka sate kambing ini. “Saya harus mempersiapkan diri dengan baik dalam waktu satu bulan ke depan. Saya harus konsentrasi penuh sepanjang pertandingan.”
Prestasi yang diraihnya saat ini tidak lepas dari buah kerja keras sejak masih kecil. Febe harus melakukan perjalanan yang lumayan jauh untuk berlatih, karena di daerahnya, Boyolali tidak ada klub pembina. Dia pun pindah-pindah klub di Solo, kota yang tidak jauh dari daerahnya. Pemain yang bercita-cita menjadi pelatih ini pun mengarungi sejumlah klub di Solo, seperti di Panorama, Sinar, dan Tangkas Solo.

Keinginannya menjadi pemain bulutangkis hebat semakin di depan matanya karena pada Oktober 2005 PB Djarum meliriknya. Tentu saja dia gembira karena Djarum merupakan salah satu klub pembina yang telah banyak melahirkan banyak atlet tingkat dunia, seperti Ivan Lie, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, dan Haryanto Arbi.

Djarum pun memberikan kepercayaan penuh kepadanya dengan mengirim ke berbagai turnamen. Karena prestasinya yang gemilang hingga menembus peringkat 19 besar dunia, dia pun mendapatkan bonus sebesar Rp90 juta dari PB Djarum.

Selain bulutangkis, dia ternyata juga jago melukis. Namun, ini hanya sekadar hobi saja. Dia juga mempunyai hobi mendengarkan lagu-lagu, dan jalan-jalan. Di luar itu, aktifitas lainnya di kala senggang, adalah membaca novel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: