Ana Rovita, “The Next of Susi Susanti”

Pemain tunggal putri Indonesia, Ana Rovita, saat bertanding melawan pemain Jepang, Sayaka Sato pada Djarum Indonesia Open Super Series 2010 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (26/6/2010). Sayaka Sato melaju ke final setelah menang dengan skor 22-20 dan 21-17.

JAKARTA, KOMPAS.com – Postur tubuhnya terhitung mungil untuk ukuran seorang pemain bulu tangkis, hanya 157 cm. Akan tetapi, bicara soal kemampuan, Ana Rovita jelas tidak bisa dikesampingkan begitu saja.

Ya, nama Ana Rovita belakangan ini memang kerap menjadi sentral pembicaraan publik penikmat olahraga tepokbulu terutama selama penyelenggaraan Djarum Indonesia Open Super Series (DIOSS) 2010 berlangsung. Maklumlah, pemain kelahiran Jepara, 30 Maret 1991 ini semula tidak diunggulkan sama sekali dalam turnamen berhadiah total 250 ribu dollar AS ini.

Jangankan untuk melaju sampai ke semifinal, untuk bisa masuk jajaran pemain kualifikasi saja perlu keberuntungan bagi Ana yang menempati posisi 246 dunia ini. Melihat peringkatnya yang terhitung jauh, agak mustahil bagi Ana untuk ikut berlaga di turnamen DIOSS 2010 ini.

Untungnya, dewi fortuna berpihak pada Ana. Di detik-detik akhir dimulainya turnamen, pemain asal klub Djarum Kudus ini berhasil mendapatkan tiket ke babak kualifikasi karena tiga pemain unggulan di tunggal puteri memutuskan mengundurkan diri.

“Sehari sebelum pertandingan, kami baru diberitahu,” kata sang pelatih, Rusmanto Djoko Semaun.

Merasa mendapat peluang besar, Ana pun tidak mau menyia-nyiakannya begitu saja. Ia langsung melesat di babak pertama kualifikasi mengalahkan pemain Singapura, Jiayuan Chen 21-17, 13-21, 21-15, Selasa (22/6/2010).

Hal serupa terjadi di babak kedua. Meski harus melewati duel ketat, Ana mampu melewati hadangan Yu Chin Shu dari Hongkong 14-21, 21-17, 21-17. Keberhasilan ini sekaligus memastikan langkah Ana ke babak utama bersama tiga pemain kualifikasi lainnya yakni Linda Weni, Rosaria Yusvin dari Indonesia dan Zhu Ying Thai asal Hongkong.

Keberuntungan Ana terus berlanjut. Pemain yang semula diminta untuk lolos babak kualiikasi oleh sang pelatih ini telah memenuhi targetnya. Permainannya pun semakin hari semakin membaik. Runner up Sirkuit Nasional Jawa Barat 2010 ini mengalahkan dua tunggal puteri asing, Maja Tvrdy asal Slovenia (21-18, 1-17) dan Fu Mingtian dari Singapura (16-21, 21-19, 21-19) masing-masing di babak pertama, Rabu (23/6/2010) dan babak kedua, Kamis (24/6/2010).

Sampai babak ini Ana menjadi satu-satunya pemain kualifikasi yang bertahan setelah tiga pemain lainnya gugur melawan pesaing mereka masing-masing. Hasil yang paling mencengangkan diperoleh Ana ketika dihadapkan dengan pemain pelatnas Cipayung, Maria Kristin Yulianti di perempat final.

Di luar dugaan, Ana melibas mantan seniornya di klub PB Djarum ini dua game langsung 21-19, 21-14, Jumat (25/6/2010). Padahal ini merupakan kali pertama bagi Ana berhadapan dengan pemain peringkat 60 BWF itu. Ini juga merupakan kejuaraan super series pertama yang diikuti Ana.

“Saya sebenarnya juga tidak menyangka bisa menang karena pertandingan tadi berat. Pukulan-pukulan dia (Maria Kristin) tajam-tajam. Saya sebenarnya hanya main lepas saja, tetapi pelatih memberitahu saya untuk main berani dan banyak memberi bola silang. Ternyata itu cukup ampuh untuk mematikan serangannya,” ungkap Ana.

Sementara Rusmanto justru menilai salah satu keunggulan yang dimiliki anak asuhnya dalam pertandingan adalah kemampuannya bermain dalam reli dengan tipe pukulan lob yang tidak bisa diprediksi lawan. Gaya reli dengan durasi lama ini hampir mirip dengan tipe permainan legenda tunggal puteri Indonesia, Susi Susanti. Tak heran Ana pun sering disebut-sebut sebagai “The Next of Susi Susanti”.

Sayangnya, gaya reli tersebut kurang efektif apabila dihadapkan pada lawan dengan tipikal penyerang yang agresif. Seperti yang terjadi pada laga semifinal melawan Sayako Sato, Sabtu (26/6/2010). Tunggal puteri asal Jepang ini gencar melakukan serangan dan dengan mudah mengontrol ritme pertandingan. Ditambah lagi, Sato memiliki postur tubuh yang lebih tinggi sehingga lebih memungkinkannya melakukan smes tajam secara beruntun. Alhasil perjuangan Ana pun harus terhenti di semifinal setelah ditundukan Sato, 22-20, 21-17.

Meski gagal ke final, apa yang dicapai Ana boleh dibilang luar biasa. Di usianya yang masih 19 tahun, ia berhasil membuktikan eksistensi dirinya dan memanfaatkan peluang yang ada dengan berjuang semaksimal mungkin. Hal itu diamini Rusmanto, “Kalau dari pengamatan saya, Ana sudah bagus. Dia punya motivasi dan daya juang yang baik. Hanya saja masih ada beberapa hal yang harus diperbaiki seperti kemampuan merubah strategi secara cepat dan power pukulannya.”

Melihat potensi besar anak asuhnya, Rusmanto pun mengaku akan gencar mengirim Ana menimba pengalaman dengan mengikuti berbagai kejuaraan internasional lain dalam waktu dekat ini.

“Iya, saya rasa Ana perlu mengikuti kejuaraan-kejuaraan lain agar jam terbangnya bertambah. Dalam waktu dekat ini akan ada Kejuaraan Interseries di Singapora tanggal 22 Juli 2010 dan Indonesia International Challenge di Surabaya tanggal 27 Juli yang akan diikuti,” ujar Rusmanto.

Sementara bagi Ana sendiri, banyak pengalaman berharga yang diperolehnya di DIOSS 2010 sebagai kompetisi yang mengawali transisinya dari tunggal puteri junior ke dewasa.

“Buat saya, kegagalan ini akan jadi motivasi. Yang pasti menurut saya di dalam pertandingan itu siapa yang lebih mau capek, dialah yang akan menang,” tandas penggemar berat Taufik Hidayat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: