Elizabeth Ingin Patahkan Keraguan

Bulutangkis.com – GOR Sinar Mutiara menjadi saksi bisu pertandingan-pertandingan seru di rangkaian Djarum Sirkuit Nasional (Djarum Sirnas) Bulutangkis Regional III di Tegal. Kota Bahari ini memang dikenal dengan kota yang cukup terik, apalagi sepanjang 12 hingga 17 Juli mendatang, akan ditambah panas dengan kompetisi berhadiah total Rp 165.000.000.

Hari Rabu (14/7) mulai mempertandingkan nomor tunggal dewasa putri. Srikandi Pelatnas pun tak ketinggalan berunjuk kemampuan. Adalah Elizabeth Purwaningtyas hari ini dipaksa bermain rubber game oleh atlet asal PB SGS Elektrik, Mutiarani.

Atlet yang kerap disapa Ocoy ini berhasil menutup game pertama dengan 21-17, tapi ia harus menyerah 18-21 di game kedua.

“Game kedua memang agak blank, seperti kehilangan irama permainan,” ungkapnya usai pertandingan.

Memasuki game ketiga, Ocoy yang lebih unggul stamina ini tanpa basa basi lagi langsung menghabisi lawannya itu dengan skor telak 21-7. Hal ini pun diakuinya karena di game ketiga, lawan sudah tak lagi mampu mengejar bola-bola yang ditempatkan olehnya.

Mungkin bila anda melihat perawakan gadis berusia 17 tahun ini, anda akan menebak bahwa dia sudah pasti orang Indonesia bagian timur, tetapi bila anda berbicara dengannya mungkin anda akan terheran-heran. Putri pasangan Antounius Soehardjo (alm) dan Vonny Bernadette ini sangat fasih berbahasa Sunda, logatnya pun sangat Sunda.

Dia memang lahir dari keluarga yang multi ras, sang ayah yang orang Jogja, menikah dengan sang ibu yang merupakan putri dari keluarga Makassar dan Manado.

“Dari lahir sudah di Cimahi, jadi ya beginilah,” ungkapnya dengan logat Sunda kental.

Dengan keluarga multi ras dan sedari kecil tinggal di Cimahi, Ocoy tak ragu untuk menyebut Cimahi sebagai kampung halamannya.

“Kampung halaman saya ya Cimahi, saya dari kecil di sana,” lanjutnya sambil tertawa.

Usia 10 tahun mungkin bagi sebagian atlet akan dianggap sebagai usia yang sangat terlambat untuk memulai karier di dunia olah raga, tapi Ocoy membuktikan bahwa hal itu salah. Ia baru mulai memegang raket di usia 10 tahun, dan kini diusianya yang ke 17, Ocoy sudah menjadi bagian dari Pelatnas Pratama.

Perjalan karier Ocoy pun tak semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai cobaan dihidupnya membuat dia sempat sangat ingin berhenti di bulutangkis.

“Setelah papa meninggal, saya sempat tidak mau lagi bermain bulutangkis,” kenangnya.

Ocoy harus kehilangan motivator utamanya di dunia bulutangkis, saat sang Ayah harus kembali ke pangkuan yang Maha Kuasa tahun 2005 silam, hal ini mempengaruhi prestasi dia di lapangan, bahkan ia mengenang sempat hanya mendapat satu poin dalam satu set di pertandingannya tahun 2006 lalu. Dimana ia kalah dari Yeni Asmarani yang kini memperkuat PB Djarum, Ocoy menyerah 1-21 dan 6-21.

Berbagai kegagalan pun harus Ocoy telan di hari berikutnya. Ia mendaftarkan diri ke salah satu Pusdiklat, namun ia menerima jawaban tidak. Tahun 2007 menjadi titik balik baginya, dimana ia mulai naik ke kelas remaja. Dan terus berprestasi di bawah asuhan Didit Suluh Patria, karena Didit lah yang meyakinkan ia untuk terus berkarier di bulutangkis.

Di tahun yang sama, gadis yang lahir pada 23 Februari 1993 ini mengikuti seleksi di Pelatnas Cipayung untuk bisa ikut Vietnam Challenge. Ia mengenang bahwa saat itu harus menempuh perjalanan sendiri dari Bandung ke Cipayung, seleksi ini hanya membutuhkan dua orang. Namun, Ocoy pun hanya finish di ranking ke tiga, dan ia sudah dipastikan batal berangkat ke Vietnam.

“Memang bisa berangkat tapi harus biaya sendiri, dan mama memilih pilihan, ke Vietnam atau pergi ke turnamen-turnamen nasional.”

Ocoy pun memutuskan untuk tidak berangkat, tapi kemudian ia dihubungi oleh donatur yang akan memberikannya biaya untuk berangkat ke Vietnam.

“Itulah pertama kali turnamen internasional saya,”
Di Vietnam ia hanya sampai babak kedua, tapi di tahun 2008 Ocoy menunjukkan tajinya. Ia ditargetkan meraih lima gelar juara, dan ia pun menjawab itu dengan menyabet empat gelar juara Sirnas, dan satu kejuaraan swasta nasional.

Ocoy memang kerap kali disangsikan banyak orang. Dengan postur tubuh yang hanya 161 cm, Ocoy dianggap tidak akan bisa berkembang dan tidak akan bisa bertaji di kancah bulutangkis. Tapi hal ini tidak menyurutkan Ocoy untuk meniti karier di dunia bulutangkis.

Akhirnya ia bergabung bersama Pelatnas Pratama, dan ingin terus menunjukkan prestasinya. Melihat perjuangannya, mungkin yang dibutuhkan Ocoy adalah kesempatan dan kepercayaan.

“Saya ingin membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin,” pungkasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: