Susy-Alan soal Pacaran dan Prestasi

KARTONO RYADI

Susy Susanti dan Alan Budikusuma

JAKARTA, KOMPAS.com — Alan Budi Kusuma dan Susy Susanti selalu dianggap sebagai pasangan ideal sejak keduanya meraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992. Namun pada awalnya, mereka harus menyembunyikan hubungan ini.

Oleh karena itulah, kecintaan Alan Budikusuma (42) dan Susy Susanti (39) pada bulu tangkis tak pernah berhenti. Alan yang menghabiskan sebagian besar kariernya bersama PB Djarum sejak 1986 hingga pensiun tahun 1997 tetap memerhatikan perkembangan dunia bulu tangkis. ”Idealnya, pembinaan ini melibatkan pemerintah, terutama untuk soal dana. Sulit jika mengharap swasta terus-menerus. Djarum merupakan salah satu klub yang konsisten dalam pembinaan. Kontribusinya luar biasa,” ujar Alan.

Sementara itu, Susy yang sejak SMP sudah memutuskan untuk serius di bulu tangkis juga mempunyai harapan terhadap munculnya bibit-bibit potensial jika para atlet dibina secara benar dan serius.

Berkaitan dengan hari kasih sayang, bagi mereka, kasih sayang tak harus diperlihatkan pada hari Valentine yang jatuh pada 14 Februari. Mereka yang sudah menikah sejak 1997 ini menilai, ungkapan atau bentuk kasih sayang lebih memiliki makna justru pada keseharian. “Kami memang jarang merayakan secara spesial Hari Kasih Sayang atau Valentine. Soalnya menurut kami, kasih sayang itu harus selalu ditunjukkan dan diberikan setiap hari, sepanjang tahun,” kata Alan.

Mungkin banyak orang tak mengira bahwa perjalanan cinta Alan-Susy yang berujung pada pernikahan ini berjalan mulus sejak awal. Menurut Alan, mereka banyak menemui kesulitan saat awal menjalin hubungan di pertengahan tahun 1980-an. “Ketika itu kami baru masuk ke pelatnas. Kondisi pelatnas tidak sebebas seperti sekarang. Pelatih sering kali mendoktrin kami kalau pacaran akan membuat prestasi terhambat. Padahal kan tidak selalu seperti itu. Tak cuma pelatih, orangtua kami pun akhirnya memiliki pandangan serupa,” kata Alan.

”Makanya sejak dulu kami tidak punya tradisi merayakan hari Valentine secara khusus. Bagaimana mau merayakan? Kehidupan di asrama tidak memungkinkan kami untuk melakukan hal itu. Lagi pula, kebetulan kami sama-sama bukan orang yang romantis,” tambah Susy.

Kisah cinta Alan-Susy dimulai ketika mereka masuk ke pelatnas pada tahun 1985. Ketika itu, lantaran banyaknya hambatan, mereka berpacaran secara diam-diam alias backstreet. ”Ketika itu, kalau kami kalah, langsung ada anggapan kami kalah karena kebanyakan pacaran. Padahal hal itu kan tidak sesuai konteks. Kami kalah karena misalnya kurang persiapan,” tutur Alan.

Meski pada saat awal pacaran mereka berjalan secara backstreet, Alan dan Susy tetap bisa menunjukkan bentuk perhatian dan kasih sayang. ”Kami selalu saling support satu sama lain. Contoh kecilnya, kalau Alan mendapat giliran latihan malam, saya menyiapkan air panas untuk dia mandi,” kenang Susy.

Ketika itu, para atlet pelatnas masih berlatih di kawasan Senayan. Jumlah lapangan yang belum banyak membuat mereka harus berlatih secara bergiliran. Tak heran jika selalu ada yang mendapat giliran berlatih hingga malam hari. Perhatian yang lebih kurang mirip juga dilakukan Alan terhadap Susy. ”Kalau giliran Susy yang latihan malam, saat pulang biasanya saya jemput,” kata Alan.

Untuk membuktikan bahwa hubungan yang mereka jalin tidak menimbulkan efek negatif, Alan dan Susy bertekad untuk memberi bukti berupa prestasi. ”Ya harus dengan prestasi. Tanpa menunjukkan prestasi, tentu sulit bagi kami untuk mendapatkan restu, baik dari pelatih maupun dari orangtua masing-masing,” urai Alan.

Prestasi puncak Alan dan Susy adalah ketika mereka menyabet medali emas nomor tunggal putra dan putri Olimpiade Barcelona 1992. Prestasi itu begitu fenomenal dan tak akan terlupakan karena medali tersebut adalah emas pertama yang diraih Indonesia di kancah olimpiade. Hingga saat ini, belum pernah ada yang menyamai prestasi mereka sebagai pasangan yang merebut medali emas dan dijuluki pasangan emas olimpiade.

Kini setelah menikah, pasangan ini tetap menunjukkan perasaan dan kasih sayang dengan cara yang lain. Kasih sayang mereka kini juga dilimpahkan pada tiga buah hati, Laurencia Averina (11), Albertus Edward (9), dan Sebastianus Fredrik (6).

”Kami bersama membesarkan anak-anak. Itu juga bentuk komitmen dan kasih sayang kami,” kata Alan. ”Terkadang kami berdua sempatkan untuk pergi makan berdua. Bagaimanapun, cara seperti itu amat terasa untuk menjaga kasih sayang. Tanpa komitmen dan kasih sayang, tentu kami tak akan bisa memelihara hubungan ini,” tambah Susy.

Meskipun telah pensiun, Susy masih bisa menorehkan prestasi dengan menjadi manajer tim yang mengantarkan tim Piala Uber Indonesia menempati posisi runner up pada perebutan Piala Uber 2008 di Jakarta.

Data Diri :

Alan Budikusuma
Lahir: Surabaya, 29 Maret 1968
Prestasi:
Medali Emas Olimpiade Barcelona 1992
Juara Malaysia Open 1995
Juara Indonesia Open 1993
Juara Jerman Open 1992
Juara China Open 1991
Juara Thailand Open 1989 dan 1991
Juara Belanda Open 1989

Susy Susanti
Lahir: Tasikmalaya, 11 Februari 1971
Prestasi:
Medali Emas Olimpiade Barcelona 1992
Medali Perunggu Olimpiade Atlanta 1996
Juara Kejuaraan Dunia 1993
Juara All England 1990, 1991, 1993, dan 1994
Juara World Badminton Grand Prix 1990, 1991, 1992, 1993, 1994 dan 1996
Juara Indonesia Open 1989, 1991, 1994, 1995, 1996, dan 1997
Juara Malaysia Open 1993, 1994, 1995, dan 1997
Juara Jepang Open 1992, 1994, dan 1995
Juara Korea Open 1995
Juara Belanda Open 1993
Juara Denmark Open 1991 dan 1992
Juara Thailand Open 1991, 1992, 1993, dan 1994
Juara Swedia  Open 1991
Juara China Taipei Open 1991 dan 1994
Juara Piala Uber 1994 dan 1996 (Tim Piala Uber Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: