Jangan Remehkan Raket Plastik!

Rendy Sugiarto

JAKARTA, Kompas.com – Jangan pernah meremehkan mainan raket dari plastik.  Karena dari hal yang remeh tersebut terkadang muncul niat menjadi pemain besar.

Tak pernah terbayang di benak Herawati Kusumo (50) bakal melepas putra bungsunya Rendy Sugiarto untuk menekuni bulutangkis sebagai pilihan hidupnya. Nyatanya, saat ini Rendy sudah mantap merajut masa depan di kawah candradimuka bulutangkis Indonesia di pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta.

Sejak berusia 3 tahun, Rendy sudah mulai memegang raket. Biasanya, si kecil Rendy bermain dengan pembantu rumah tangga orangtuanya, pasangan Iman Sugiarto-Herawati. Dua kakak perempuan Rendy, Elli Kurnia Dewi dan Ita Kurnia Dewi, tak ada yang menekuni bulutangkis.

Umur 3 tahun saya belikan dia raket mainan dari plastik. Umur 4 tahun minta raket besi. Umur 5 tahun sudah berlatih bulutangkis di Purwokerto,” kenang Herawati. Domisili Herawati di Banyumas membuat perjalanan 18 km ke Purwokerto harus ditempuh Rendy setiap hari Senin hingga Jumat. Cara ini ditempuh karena hanya di Purwokerto ada pelatih yang bisa melatih Rendy.

Sebetulnya Didit Mardito yang jadi pelatih pertama Rendy tak menerima murid selain anaknya. Tapi karena sewaktu dites bisa menang lawan anaknya, Rendy diterima jadi murid,” ujar Herawati yang memiliki toko sembako di rumah sebagai sandaran hidupnya. Setelah Rendy lulus SD di tahun 2003, dia meminta untuk ikut seleksi ke PB Djarum Kudus. Meski berat, Herawati meluluskan permintaan itu dan mengantar Rendy ikut seleksi. Hasilnya, Rendy dinyatakan lulus.

Hanya saja, keberhasilan itu membuat Herawati harus berpisah dengan putra bungsu kesayangannya. Setiap atlet yang lolos seleksi dan bergabung dengan PB Djarum memang harus tinggal di asrama yang sudah disediakan. “Di usia 12 tahun sudah harus tinggal sendiri terpisah dengan orangtua. Saya sebetulnya tidak tega. Tapi sejak kecil memang Rendy memiliki keinginan yang kuat jika sudah punya mau,” kata Herawati.

Setelah diterima, Rendy meminta orangtuanya untuk tak pulang ke Banyumas. Padahal jarak Banyumas-Kudus harus ditempuh selama enam jam. Iman dan Herawati tak kurang akal. Selama dua bulan, Iman tinggal di rumah kakaknya di Semarang, yang hanya berjarak satu jam perjalanan dari Kudus. “Tiap sore suami saya datang menemani Rendy latihan di Kudus. Saya yang menjaga rumah. Setelah dua bulan Rendy baru mau ditinggal,” kata Herawati.

Lantaran tetap menyimpan rasa khawatir, Herawati kerap merasa deg-degan jika Rendy menghubunginya lewat telepon. “Takut ada kenapa-kenapa. Saya khawatir dia sakit karena dia memang gampang sakit,” tutur Herawati lagi. Ketika Rendy menginjak bangku SMP kelas 2 kekhawatiran sang ibu itu terjadi. Rendy terserang penyakit tipus dan demam beradarah. Akibatnya, Rendy tak bisa berlatih selama dua bulan dan dibawa pulang ke Banyumas.

Setelah itu, hingga duduk di SMA kelas satu Rendy kembali tinggal bersama orangtuanya. Namun ketika naik ke kelas dua SMA, Rendy memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Tekadnya sudah bulat untuk kembali menekuni bulutangkis. “Saat itu saya sudah tak terlalu khawatir lagi. Hanya saja, saya berpesan padanya untuk memilih, sekolah atau bulutangkis. Soalnya kalau ditekuni dua-duanya sulit untuk dijalankan. Harus pilih salah satu,” ungkap Herawati.

Sebetulnya saya juga tak tega. Apalagi di rumah mereka hanya tinggal berdua karena kakak saya juga tinggal di luar kota. Tapi justru papa-mama memberikan dukungan sehingga saya bisa tenang,” kata Rendy. Ketika tiba di Jakarta, Rendy bergabung dengan PB Ratih Tangerang. Sempat bertahan setahun, Rendy masuk ke PB Djarum yang bermarkas di Petamburan, tempat penggodokan atlet nomor ganda.

Setelah di Jakarta Rendy banyak cerita soal keadaan asrama. Saya jadi lebih tenang karena tahu rasa persaudaraan di klubnya itu sangat kental. Pilihannya untuk menunda pendidikannya setelah lulus SMA juga saya terima,” kata Herawati. Hal yang diingat Rendy adalah dukungan tanpa henti yang diberikan orangtuanya. “Kalau masih bisa dijangkau, mereka selalu menyempatkan diri menyaksikan saya bertanding jika ikut turnamen. Seingat saya paling jauh mereka datang ke Bandung. Sayangnya saat itu saya tak bisa jadi juara,” kata Rendy sambil tertawa.

Herawati tak memaksa Rendy untuk sekolah atau meneruskan usaha toko yang dikelolanya bersama sang suami. “Umur tak bisa menunggu. Padahal untuk jadi atlet ada usia emasnya. Saya relakan Rendy untuk menekuni bulutangkis,”.

Setahun berikutnya, di awal tahun 2009, panggilan masuk pelatnas pratama pun diterima Rendy. Tak lama bergabung dengan pelatnas pratama, Rendy mengukir prestasi internasional. Dalam Kejuaraan Asia Yunior, gelar juara ganda putra disabet Rendy yang berpasangan dengan Angga Pratama. Meski mulai mengukir prestasi, harapan Herawati buat anaknya masih panjang. “Selama ini Rendy masih sering diganti-ganti pasangannya. Semoga dia cepat menemukan rekan terbaik. Sehingga bisa meraih prestasi lainnya,” harap Herawati.

<!–/ halaman berikutnya–>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: