Susi dan Ivana Kritik Pola Latihan

Susi Susanti

JAKARTA, KOMPAS.com – Anjloknya prestasi bulutangkis Indonesia di beberapa kejuaraan terakhir membuat dua mantan atlet bulutangkis, Susi Susanti dan Ivana Lie merasa perlu mencetuskan reformasi dalam hal kepelatihan di dalam tubuh pelatnas terutama untuk pratama.

Menurut Susi, PB PBSI perlu menetapkan standar yang baku mengenai kriteria seorang pelatih pratama. Terlebih lagi pelatnas pratama merupakan cikal bakal pemain senior yang nantinya akan menjadi tumpuan bangsa di kejuaraan internasional.

“Bukan bermaksud mengecilkan tapi kenyataannnya standar pemain pelatnas pratama yang ada saat ini jauh lebih rendah ketimbang di luar pelatnas. Jadi, perlu dikaji ulang mengenai cara pemilihan pelatih pratama seperti apa dan kriterianya apa saja?” tutur peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 ini.

Susi juga berharap agar atlet yang tergabung dalam pelatnas pratama hendaknya memiliki range usia di bawah 15 tahun. Hal ini menurutnya memungkinkan agar pembinaan bisa lebih efektif. “Idealnya masuk pratama harus di bawah 15 tahun karena prosesnya untuk menjadi atlet elit kan cukup panjang, sekitar 7-8 tahun. Baiknya, di tiap tahun juga dilakukan seleksi dan degradasi supaya mereka lebih termotivasi,” paparnya.

Ia menambahkan, setiap pelatih hendaknya tidak menyeragamkan semua atlet muda. “Setiap atlet itu kan berbeda jadi penanganan, program dan cara melatihnya pun berbeda-beda. Jangan disamaratakan,” sebutnya.

Sementara Ivana justru berharap pelatih lebih memaksimalkan kemampuan atlet pratama dengan menempatkannya di beberapa nomor sekaligus. Hal ini sesuai dengan sistem kepelatihan yang dilakukan di beberapa negara lain seperti Korea Selatan dan Thailand.

“Sebaiknya atlet pratama diturunkan minimal di dua nomor. Selain kesempatan bertanding lebih banyak, kemampuan fisik serta mental mereka pun lebih terasah. Baru setelah mereka dapat menemukan kelebihannya mereka bisa fokus di satu nomor tertentu,” papar Ivana.

Mengomentari soal wacana pelatih asing beberapa waktu lalu, pemain bulutangkis era 1980-an ini justru mengharapkan pihak PB PBSI lebih mengutamakan perbaikan di Internal sebelum siap mengimpor pelatih baru. “Yang harus dipikirkan adalah menciptakan suasana yang kondusif terlebih dahulu sebelum mendatangkan pelatih asing. Selain itu perlu peninjauan lebih lanjut apakah benar-benar perlu mendatangkan petih asing atau hanya dengan mengerahkan pelatih lokal (mantan pemain),” pugkas Ivana.

Comments
2 Responses to “Susi dan Ivana Kritik Pola Latihan”
  1. hiandy wibowo says:

    Hal yg perlu dirubah adalah sistem kepengurusan PB.PBSI dulu,pengurus PB.PBSI hendaknya mengurus program jangka panjang bulutangkis Indonesia.bukan mengurus Pelatnas.untuk sistem pelatihan dan program Pelatnas diserahkan sepenuhnya oleh KABID Pelatnas.PB.PBSI itu mencakup Pengda2 dari SABANG smp MERAUKE,bukan cuma CIpayung.Mereka ditunjuk oleh Pengda di Munas untuk membina Bulutangkis Indonesia atau membina Cipayung?Pelatnas bukan untuk Pembinaan tetapi Pembinaan dimulai dari club,sekolah yang semuanya itu di koordinasi oleh PB.PBSI lwt Pengda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: