Malaysia dan Korea Jadi Ancaman China

Ganda putra Malaysia, Koo Kien Keat (kiri) dan Tan Boon Heong, menjadi ancaman besar di Asian Games XVI.

GUANGZHOU, Kompas.com – China berpeluang besar menyapu bersih gelar juara bulu tangkis di Asian Games XVI. Selain berpredikat raksasa, status tuan rumah membuat mereka semakin difavoritkan untuk melakukannya.

Mesipun demikian, masih ada pemain-pemain top dari negara lain yang siap merusak ambisi “Negeri Tirai Bambu” tersebut. Pemain nomor satu putra dari Malaysia, Lee Chong Wei, menebar kemungkinan akan menghentikan permainan bintang China, Lin Dan.

Lin Dan dianggap sebagai pemain bulu tangkis terbaik sepanjang masa, akan turun memimpin timnya dalam laga bulu tangkis yang akan dimulai Sabtu (13/11/10).

“Kepala saya pusing setiap kali ditanya tentang prospek saya di Asian Games,” kata juara Olimpiade berusia 27 tahun itu.

“Begitu banyak saingan kuat yang akan turun. Sebenarnya, pemain terbaik dunia berasal dari negara Asia. Jadi rasanya tidak ada bedanya dengan permainan di Olimpiade,” katanya.

Bulu tangkis di Asian Games menandingkan nomor perorangan dan tim, menyuguhkan tujuh medali emas. Ini membuat persaingan terasa lebih kompetitif, kata pelatih kepala tim China, Li Yongbo.

“Itulah makanya Asian Games merupakan arena paling unik,” kata Li. “Kalau mereka bermain habis-habisan untuk tim, maka mereka akan keteter di nomor perorangan.”

China memperagakan penampilan mengesankan di Kejuaraan Dunia Agustus lalu. Mereka kelihatan lebih dari mampu, ketika menyabet semua lima gelar di Paris, untuk kedua kalinya dalam sejarah cabang olahraga itu.

Namun Li, yang membangun timnya dengan banyaknya pemain cedera, menyatakan tidak hanya Malaysia yang dapat menghancurkan harapan mereka. Koo Kien Keat dan Tan Boon Heong dari Malaysia merupakan salah satu pemain ganda terbaik dunia dan juara bertahan Asian Games, sedangkan Korea Selatan juga merupakan ancaman di partai ganda.

Indonesia dan Hongkong juga harus diperhitungkan sebagai ancaman dalam beberapa tahun ini, kendati keduanya kini tidak lagi sekuat seperti sebelumnya.

“Korea kelihatannya menjadi tantangan besar bagi China,” kata Raphael Sachetat, kepala editor laman Badzine (http://www.badzine.net).

“Mereka melakukan persiapan amat bagus, amat keras dan memadukan partai ganda pada menit akhir, sehingga bisa amat berisiko bagi China,” katanya.

Namun, ini tidak hanya menyangkut Asia Timur dan Asia Tenggara, yang secara tradisional merupakan pusat kekuatan cabang ini. Pemain dari India, Saina Nehwal, juga sedang menikmati masa bersinarnya tahun ini, terutama pada paruh kedua tahun 2010, dan kini ia berada pada urutan tiga terbesar dunia.

Pemain berusia 20 tahun dari Hyderabad, pemain putri pertama India memenangi turnamen Super Series, datang ke Guangzhou setelah meraih medali emas di pesta olahraga negara Persemakmuran di negaranya sendiri baru-baru ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: